HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

 


Komplikasi Campak pada Orang Dewasa Bisa Lebih Serius


 Bandung – Penyakit campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga dapat terjadi pada orang dewasa dengan tingkat keparahan yang lebih serius. Campak pada orang dewasa dapat menimbulkan komplikasi berat, terutama pada individu yang tidak memiliki kekebalan atau belum mendapatkan vaksinasi lengkap.


Dokter Rudi Wisaksana dari RSUP Hasan Sadikin Bandung, Jawa Barat yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia cabang Bandung, menjelaskan bahwa secara umum gejala campak pada orang dewasa hampir sama dengan yang terjadi pada anak-anak. Penyakit ini disebabkan oleh virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae yang sangat menular dan menyebar melalui droplet saluran pernapasan.  "Campak merupakan salah satu penyakit yang tingkat penularannya sangat tinggi. Virus dapat menyebar melalui batuk atau bersin dan menular dari orang ke orang,” ujarnya dalam seminar daring Waspada KLB Campak, Rabu (11/3/2026). 


Ia menjelaskan bahwa masa inkubasi campak rata-rata sekitar 10 hari, kemudian diikuti fase prodromal selama tiga hingga lima hari dengan gejala infeksi saluran pernapasan. Setelah itu muncul ruam khas yang biasanya dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh, disertai demam tinggi dan kondisi tubuh yang lemah.


Kasus Campak Masih Tinggi


Berdasarkan laporan kesehatan global, kasus campak masih menjadi perhatian serius. Data menunjukkan bahwa pada 2024 terjadi peningkatan kasus campak, sementara beberapa penyakit lain seperti gondongan dan rubella justru cenderung menurun.


Laporan kesehatan internasional juga menyebutkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan jumlah kasus campak yang cukup tinggi di dunia. Secara geografis, kasus paling banyak ditemukan di wilayah Jawa dan Sumatra, meskipun penyebaran juga mulai terlihat di Bali, Nusa Tenggara Barat, serta beberapa wilayah di Sulawesi.


Rudi menegaskan bahwa campak pada orang dewasa sering kali lebih serius dibandingkan pada anak. Hal ini terjadi karena sebagian orang dewasa tidak memiliki kekebalan yang cukup. Salah satu penyebabnya adalah mereka lahir sebelum program imunisasi campak secara luas diterapkan pada anak-anak di Indonesia sejak sekitar tahun 1980-an.  “Tidak semua orang dewasa memiliki riwayat vaksinasi lengkap, sehingga risiko terkena campak tetap ada dan perjalanan penyakitnya bisa lebih berat,” jelasnya.


Pada orang dewasa, gejala juga dapat muncul secara tidak khas atau atipikal. Ruam bisa muncul dengan urutan yang berbeda, gejala klasik seperti batuk, pilek, dan konjungtivitis tidak selalu lengkap, sehingga diagnosis terkadang menjadi lebih sulit.


Risiko Komplikasi Serius


Sekitar 30 persen kasus campak pada orang dewasa dapat menimbulkan komplikasi. Salah satu yang paling sering adalah pneumonia atau radang paru.


Pneumonia akibat campak dapat terjadi secara langsung karena infeksi virus atau akibat infeksi bakteri sekunder. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan paru yang luas dan dalam beberapa kasus memerlukan perawatan intensif.


Selain itu, komplikasi lain yang dapat terjadi meliputi: Ensefalitis (radang otak) yang dapat menyebabkan kerusakan otak permanen, Gangguan fungsi hati dengan peningkatan enzim hati, Diare berat dan gangguan pencernaan, Trombositopenia, Infeksi telinga, dan Gagal ginjal dalam kasus tertentu.  "Pada kasus yang jarang namun fatal, campak juga dapat menyebabkan Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE) yang muncul beberapa tahun setelah infeksi," jelasnya. 


Campak pada orang dewasa cenderung lebih berat pada kelompok dengan kondisi tertentu, seperti: penderita gangguan sistem imun, pasien HIV, penderita kanker atau leukemia, pasien yang menjalani terapi imunosupresif, penderita diabetes, individu dengan malnutrisi, dan perempuan hamil. 


Hingga saat ini belum terdapat terapi antivirus spesifik untuk campak. Penanganan yang diberikan bersifat suportif, antara lain pemberian cairan yang cukup, obat penurun demam, vitamin A, antibiotik jika terjadi infeksi bakteri sekunder, dan isolasi pasien untuk mencegah penularan. "Pasien biasanya perlu menjalani isolasi sejak empat hari sebelum muncul ruam hingga empat hari setelah ruam muncul karena pada periode tersebut penularan masih dapat terjadi," ungkapnya. 


Pencegahan paling efektif terhadap campak tetap melalui vaksinasi. Rekomendasi imunisasi dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia menyarankan pemberian vaksin campak atau MMR (Measles, Mumps, Rubella) sebanyak satu hingga dua dosis dengan interval sekitar satu bulan.


Vaksin ini sangat dianjurkan bagi tenaga kesehatan, pelaku perjalanan internasional, mahasiswa atau pelajar yang tinggal di asrama, dan orang dewasa yang tidak memiliki bukti kekebalan terhadap campak. Selain itu, vaksinasi juga menjadi syarat penting dalam beberapa perjalanan internasional, termasuk kegiatan ibadah seperti haji dan umrah yang melibatkan kerumunan besar. “Campak bukan penyakit ringan, terutama pada orang dewasa. Pencegahan terbaik tetap melalui vaksinasi agar komplikasi serius dapat dihindari,” ujarnya.


Dokter Rudi Wisaksana menutup dengan pesan penting tentang menjaga kesehatan. “Manfaatkan masa sehat sebelum datang masa sakit. Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan," pungkasnya.