Dari Kuli Bangunan Jadi Raksasa Properti: Jejak Inspiratif H. Badris Salam Bangun Sulsel
Makassar — Sebuah foto usang hasil jepretan kamera analog era akhir 90-an menyimpan memori yang enggan dihapus oleh Haji Badris Salam. Di potret buram itu, tampak seorang pria berjongkok di atas anyaman besi proyek, kepalanya tertutup topi caping, sementara kakinya dibalut sepatu boots pekerja.
"Itu saya," kenang Badris, tersenyum menatap potret masa lalunya saat ditemui pada awal September 2026 lalu.
Siapa sangka, pria bertopi caping di foto tersebut kini menjelma menjadi salah satu figur paling diperhitungkan di industri properti Sulawesi Selatan (Sulsel). Ya, 28 tahun silam, Badris tidak datang ke Makassar dengan kemeja necis atau tas kerja berisi cetak biru perumahan raksasa. Tak ada kantor mentereng, apalagi nama perusahaan. Ia murni datang sebagai perantau yang mengais rezeki dari debu semen dan batu bata.
Kawah Candradimuka Sang Pemborong
Lahir di kawasan pegunungan—tepatnya di Dusun Bulu-bulu, Desa Bulu Tellue, Kecamatan Bulupoddo, sekitar 30 kilometer dari pusat Kabupaten Sinjai—pada 28 Agustus 1975, Badris tumbuh layaknya pemuda desa pada umumnya. Hasrat untuk mengubah nasib membawanya merantau ke ibu kota provinsi pada 1998.
Kariernya dimulai dari lapisan paling bawah industri konstruksi dengan mengikuti pamannya yang lebih dulu menjadi kontraktor. Di kawah candradimuka proyek bangunan, Badris mengasah mental dan ketahanannya. Semua fase ia lalui: menjadi buruh harian, tukang, mandor, pemborong, subkontraktor, hingga akhirnya memegang kendali penuh sebagai kontraktor.
Proses panjang dan berdarah-darah inilah yang menjadi fondasi personal branding seorang Badris Salam. Ia bukan bos properti instan. Ia paham betul takaran semen yang pas, kualitas besi yang baik, hingga cara memanusiakan pekerja di lapangan. Jam terbang ini membentuk karakter kepemimpinannya yang gigih, membumi, dan memahami industri properti hingga ke akar rumput.
Imperium 'Bumi Mas' dan Rekor Nasional
Keringat sebagai kuli bangunan itu kini telah terbayar lunas. Lewat bendera PT Bumi Pundi Karsa dan PT Mandiri Pratama Putra, kelompok usaha Badris sukses membangun ekosistem perumahan yang masif di berbagai pelosok daerah.
Coba telusuri berbagai wilayah di Sulsel. Jika Anda menemukan papan nama perumahan dengan lekat kata 'Bumi' dan 'Mas', besar kemungkinan kawasan tersebut lahir dari tangan dingin H. Badris. Imperium propertinya menggurita: Bumi Panaikang Mas di Makassar, Bumi Findaria Mas (Maros), Bumi Pundi Mas (Gowa), Bumi Pajukukang Mas dan Bumi Tanetea Mas (Bantaeng), hingga Bumi Polewali Mas (Bulukumba).
Ia juga tidak melupakan kampung halamannya dengan membangun BTN Lappa Mas di Sinjai, disusul Bumi Cilellang Mas (Bone) dan Bumi Benteng Mas (Palopo).
Fokus bisnis Badris memiliki orientasi kerakyatan yang kuat. Ia tak hanya mengejar profit di segmen komersial (tercatat sekitar 1.000 unit), melainkan berdedikasi menyediakan hunian bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Sampai hari ini, Badris telah membangun sekitar 15.000 unit rumah subsidi.
Dedikasi luar biasa di sektor perumahan rakyat ini bahkan membuahkan pengakuan di level nasional. Pada 2025 lalu, PT Mandiri Pratama Putra sukses menyabet penghargaan bergengsi dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, dinobatkan sebagai pengembang dengan capaian Program 3 Juta Rumah terbanyak ketiga secara nasional.
Sebuah pembuktian paripurna; bahwa pemuda lereng gunung yang pernah berkalung peluh di balik topi capingnya, kini berdiri kokoh sebagai 'atap' pelindung bagi belasan ribu keluarga di Sulawesi Selatan.


