Tancap Gas Proyek Bioetanol 2 Juta Hektare, Mentan Amran Bidik 8 Juta Lapangan Kerja Baru
September 27, 2026
Jakarta - Ambisi Indonesia untuk lepas dari ketergantungan energi fosil mulai menemui titik terang. Kementerian Pertanian (Kementan) resmi menekan pedal gas proyek raksasa pengembangan bioetanol nasional. Tidak main-main, 2 juta hektare lahan dipersiapkan sebagai fondasi industri energi hijau berbasis tiga komoditas utama: tebu, singkong (ubi kayu), dan jagung.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, kedaulatan energi tidak bisa diraih hanya dengan bermodal membangun pabrik. Langkah fundamental yang wajib dieksekusi pertama kali adalah mengamankan pasokan bahan baku dari hulu melalui pengembangan kawasan agraris skala raksasa yang terintegrasi langsung dengan industri pengolahan.
"Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya, kita gerakkan masif seluruh Indonesia," tegas Amran usai memimpin Rapat Program Khusus Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati dari berbagai daerah di Jakarta, Senin (21/9).
Bukan Monopoli Konglomerat, Rakyat Wajib Kebagian
Untuk memuluskan megaproyek ini, pemerintah merancang skema pembiayaan kolaboratif. Amran memproyeksikan porsi investasi pabrik akan ditopang oleh kolaborasi BUMN (30 persen) dan swasta (70 persen). Minat swasta diyakini akan membludak karena negara mengambil alih beban terberat, yakni penyediaan lahan.
Meski melibatkan korporasi raksasa, Amran memberikan peringatan keras: proyek ini haram meminggirkan masyarakat kecil.
"Ini tidak boleh monopoli, minimal 30 persen rakyat. Jadi rakyat menikmati. Sekarang tidak boleh di bawah 20, harus 30 persen untuk rakyat. Harus tumbuh bersama kalau negara mau kuat," cetus Mentan Amran dengan nada tegas.
Jika rantai ekonomi raksasa ini—mulai dari budidaya, pengolahan, hingga distribusi—berjalan sempurna, Amran memprediksi efek dominonya akan sangat masif bagi perekonomian akar rumput. "Kalau ini terjadi, minimal 8 juta tenaga kerja permanen tercipta. Hebat kan? Hebat Indonesia itu," tambahnya.
Tebu Jadi Primadona, Jagung Jadi Pilot Project
Dari tiga komoditas penyokong bioetanol, tebu didapuk sebagai primadona dengan alokasi target lahan mencapai 1 juta hektare. Kementan telah menggandeng Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan BUMN untuk memuluskan konsolidasi lahan tersebut.
Sementara itu, untuk pergerakan jangka pendek, Kementan akan memacu komoditas jagung. Sebagai langkah pemanasan, Amran menantang 44 bupati yang hadir untuk menyiapkan lahan pilot project seluas 500 hingga 1.000 hektare di wilayah masing-masing. Bantuan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) dipastikan segera mengalir ke daerah-daerah tersebut.
"Nanti kita lihat hasilnya. 1.000 hektare untuk setiap bupati yang datang. Kalau tanamannya bagus, produksinya tinggi, Januari saya tambah lagi luasan jagungnya," janjinya.
Jaga Ekologi, Bidik Bauran E40 di 2030
Meski berambisi mencetak jutaan hektare lahan baru, Amran memastikan buldoser proyek bioetanol ini tidak akan menabrak rambu-rambu ekologi. Pelepasan kawasan hutan akan diposisikan sebagai opsi paling buncit. Fokus utama pemerintah adalah mengoptimalkan lahan tidur, kawasan agroforestri, dan lahan yang memang sudah berstatus APL (Area Penggunaan Lain).
Proyek hulu ini selaras dengan peta jalan hilir pemerintah yang menargetkan peningkatan bauran etanol secara bertahap, mulai dari E5, E10, hingga E20 pada 2029.
"Bisa perkiraan kita, kalau kita bergerak masif dari sekarang, itu bisa tembus E40 di tahun 2030 atau 2031. Intinya adalah bagaimana kita berdaulat energi, pangan, dan protein. Insyaallah Indonesia menjadi negara superpower ke depan," pungkas Amran optimis.

